Kini, Lebih dari enam belas tahun umurku.
Hidupku dihiasi dengan hari hari yang menyuramkan, setiap hari selalu aku
terbayang baying akan sosok putih dalam hitamku, sosok terang dalam gelapku.
Sudah terbiasa dengan omongan yang menyakitkan pesarasaanku, sosok bahagia yang
sederhana, sosok malaikat yang kunanti dan sosok pelengkap dalam hidupku.
Kenapa Tuhan memberikan cobaan ini dengan begitu dahsyatnya. Hatiku selalu
mencoba untuk rela dan berharap semua akan berubah menjadi yang terbaik.
Rabu
depan usiaku genap 17 Tahun dan semoga di ulang tahunku ini Tuhan
menyediakan Kado Terindah dalam hidupku, Perkenalkan Namaku Dewi, aku masih
duduk di Bangku Sekolah. Hidupku penuh dengan tantangan, dan tatangan tersebut
yang mebuat hidupku menjadi lebih tegar…
Pagi ini.. seperti biasanya, kulangkahkan
kaki ini menuju sekolahku tercinta, mungkin dengan berada di sini aku bisa
merasakan arti dari kasih saying
“Dew.. !” Panggil seseorang dari
belakang. “Iyya Lis.. Kenapa?” Sautku sembari menyimpulkan senyum.
“Kalau bisa, besok datang ke Rumahku”
Pinta teman dekatku yang terbiasa disapa dengan Tsalis. “Iyya.. Kalau sempat
aku akan berkunjung”. Jawabku.
“Baiklah..” Singkat Tsalis.
Aku dan Tsalispun Berjalan menuju kelas,
di tengah-tegah pejalanan terlihat segerombolan anak sedang asyik mengobrol.
“ada apa? Kok tumben ngumpul?” Tanya Tsalis pada Gerombolan tersebut. “Biasa..
Ngerumpi.. Hehehe…”Cengir Devi
“Oh Iyya.. Liburan Kemarin aku sibuk
belajar memasak dengan Ibuku”. Seru Vika.. “Wah.. Asyik dong…?” saut Iffa..
“Iyyah lah.. Ibuku memang terhebat.. “
Gumam Vika dengan Nada agak tinggi.
“aku liburan juga bersama mama.. kami
berbelanja bersama” Sombong Iffa.
“Ah.. curang.. Liburan, aku hanya duduk
diam di Rumah” Seru Tsalis..
“Kenapa Lis?” Tanyya Devi.
“Ibuku sibuk dengan urusanya, walaupun
begitu.. Ibuku tetapa nomor satu tiada tandinganya!” Tegas Tsalis.
Dengan sikap tegar dan pura-pura
mencermati, aku hanya terdiam seribu bahasa.
“Lantas Kamu Dew….? Liburan Sibuk apa?”
Tanya Iffa.
“Aku…???” Tanyaku Balik.
“Iyya..? Kamu dan Ibumu”. Tanya Iffa
Aku hanya diam.
“Aku…..” gegapku sambil berangan panjang.
Namun sebelum aku melanjutkan
perkataanku, ibu Yosi memasuki kelas kami, semua anakpun bergegas menempati
kursi masing-masing.
“Dew.. nanti temani aku ke Toko Kue yah…”
Lirih Tsalis. “Mau Ngapain..” tegasku penuh harap jawaban.
“Itu.. Pesen kue Tart” Jawab Tsalis
“Memang buat apa?” Tanyaku
“Ah Banyak Tanya” Saut Tsalis memangkas
Penasaranku.
“Hehehe..” Cengirku sok manis…
Tepat jam 10.00 bell berbunyi menandakan
Jam istirahat, sebagian dari kami pun bergegas merapikan alat tulis.
“Enaknya makan apa ya..” Tanya Iffa..
“Kalau Bakso?” Sautku memberi Ide.
“Ya.. Ellah… Itu Mulu..” Kesal Iffa
“tapi enak kan..?” Omongku meyakinkan.
“enak si.. enak.. tapi bosen keles..”
Jawab Iffa.
“Terus apa” Tanyaku.
“Gimana Kalau batagor” tangkas Tsalis
memberi Pilihan.
“Ya.. Deh.. Ayookk..” Kompak kami
mengiyakannya.
Kami pun pergi menuju kantin sekolah,
tempat kami bercanda gurau sambil memakan apa yang kami pesan.
“Fa.. Tolong suruh Ibumu jahitin bajuku
dong.. ibumu kan pinter kalau menjahit.. “ Seru Tsalis.
“ya.. ellah Lis..nyokap Gue kan sibuk
mulu..” Jawab Iffa.
“Sibuk Ngapain coba..?” Heran Tsalis.
“sibuk jahitlah..” Usil Iffa..
“Ya iyya.. makanya gue skalian jahitin
yahh” rengek Tsalis pada Iffa.
“Tempat lain adjah napah..” tawar Iffa
“Hich.. Pelit Lu…” Kesal Tsalis.
“Biarin Adjah Weekk…..” cengir Iffa
membela diri.
Sembari melanjutkan perbincangan, tak
terasa kami sampai di kelas tercinta dan melanjutkan pelajaran sampai akhirnya
terdengar suara bell yang menharuskan kami berpisah dengan bangku kesayangan
kami.
Seperti biasanya kami pun saling
mendahului menuju gerbang istana pagi kami.
“Dew.. Besok adjah ya.. kita ke took
kuenya.., Besok kan weekend” tawar Tsalis.
“Okey..” sinkatku..
Akupun pergi meninggalkan Tsalis sendiri
yang menunggu jemputan dari Ibunya.
Beberapa saat kemudian . . . .
“Dewi..” sapa Alvin dari samping.
“Hay..” sapaku balik..
“Mau Pulang bareng sama Gue?” Tawar Alvin.
“memang boleh?” Usilku..
“Ya Elah Dew.. ga bakal gue suruh bayar
juga kali… “ Kesal Alvin.
“Hehehe..iyya deh iyya.” Akupun menaiki
motor Alvin.
“Pegangan Dew! Lu kan cungkring.. kena
angin berabe gue..” ejek Alvin sambil menaikan standart motor.
“Hich apaan sih” celotehku menyangkal.
Alvinpun memacu kendaraanya. Kurang lebih
lima belas menit kami berkendara dan kamipun sampai didepan Rumahku.
“Mau mampir?” tawarku.
“Besok – Besok adjah yah… aku burur buru
soalnya.” Tegas Alvin sambil memakai Helm Biru bercakil.
“Oh.. iyya deh..” sahutku tanpa
sambungan.
Alvin pun meninggalkanku, aku
melangkahkan kaki menuju pintu rumahku, ku lihat ayah sedang duduk di depan
Tivi.
“Lhoh.. ayah kok ga kerja” tanyaku.
Iyya.. lagi ga enak Badan” Jawab Ayah.
“Ohh.. ayah udah makan?” tanyaku kembali
“Sudah, gentian Dewi saja yang makan!”
Suruh ayah.
“Iyya Yah…” Jawabku sambil berjalan
menuju kamar tidurku.
Setelah ke letakan tas dan seatuku, aku
segera melakukan aktifitas keseharianku di rumah. Setelah semuanya kuanggap
selesai akupun duduk disamping ayah, seketika aku teringat semua yang teah
diucapkan teman- temanku disekolah.
“Ayah.. “Panggilku lirih.
“Iyya sayang.. ada apa?” Tanya ayah.
“Dewi ingin Tanya sesuatu yah..” sahutku
pelan.
“Iyya kenapa..” jawab ayah sambil
merangkulku dengan tatapan masih tertuju pada tivi.
“tadi kan yah.. semua teman- temanku
menceritakan tentang Liburan mereka..” Seruku.
“Terus??” Tanya ayah.
“maksud Dewi, semua menceritakan
liburanya dengan Ibunya..!” jawabku.
Ayah seakan mendengarkan ceritaku dengan
tatapan hampa ke depan, tapi ku anggap semua tidak ada masalah.
“dan semua terlihat bahagia yah.., ayah
tau ga? Aku sempat kebingungan ketika mereka menanyakan tentang liburanku
dengan ibuku.” Kataku pada ayah.
ayahpun meninggalkanku menuju kamarnya,
aku hanya duduk diam dan mencoba bertahan dalam rapuh sambil mencegah air mata
tertumpah terlalu meluap. Aku bingung dan akupun penuh tanda Tanya. Kenapa ayah
hanya diam saat kutanya seperti itu. Kenapa ayah seperi itu, ada apa di balik
ini semua.
Keesokan harinya…
“Dew.. cepetan keluar.. gue udah di luar
rumah lo..” Pesan singkat dari tsalis.
“Yah.. Dewi pergi dulu ya.. udah ada
janji dengan Tsalis..” Ijinku ku pada Ayah.
“Mau Ke mana?” Tanya Ayah
“Ke Toko Kue yah..” Jawabku
“Oh.. sekalian ayah mau pergi ke kantor”
ayah mengijinkanku.
“Ya.. Hati-hati dijalan ya yah.. nanti Dewi
pulang cepat” Jawabku.
Ayahpun menaiki mobilnya pergi menuju
kantor.
“Huh.. dasar siput.. Lama Bener sii..”
Kesal Tsalis.
“hehe.. maaf .. maaf” Cengirku.
“yaudah ayo kita cap cus ke took kue..”
seru Tsalis penuh semangat.
Kamipun pergi menuju ke toko kue.
Sesampainya kami di tempat took kue tersebut, tsalis pun langsung memilih kue
yang akan dibelinya.
“Tolong pilihin kuenya dong!” Pinta
Tsalis.
“Gimana Kalau yang ini? “ Pendapatku.
“Enak si keliatanya.. Cantik Pula, tapi
warnanya kurang” Omong Tsalis.
“Buat apa sih..?” Tanyaku penasaran.
“sebentar lagi kan hari Ibu.. nhah ini
kado dariku untuk ibu tauk..” Ujar Tsalis.
Aku hanya diam ….
“kalau menurutmu, jika kamu mau mengasih
Kue Buat Ibumu amu mau ngasih Kue apa?” Tanya Tsalis Meminta pendapatku.
“Menurutku.. Brownis, rasa manisnya sama
kaya kasih ibuku yang diberikan padaku” Lirihku.
“Wisshhh… Pinter, yaudah deh, gue Pilih
yang itu” Tsalis pun memilih dan membeli kue yang aku tawarkan tadi.
Setelah semuanya selesai, Tsalis
mengajakku makan di Coffe langganan kami. Tidak menunggu lama datanglah
makanan Faforite kami tanpa kami
memesan, Pelayanan disana sudah sangat hafal dengan pesanan kami.
“gue denger lo suka sama Alvin” Tanya
Tsalis mengagetkanku.
“Haaa….” Serentak aku kaget dengan
pertanyaan yang itu.
“Hih.. apaan sih.. masak gue suka sama Alvin?
Dia kan sahabatku, dan selamanya akan menjadi sahabat. Ga lebihlah..” omongku
..dan secara tiba –tiba Alvin berada
dibelakang kami, entah sudah lama atau mungkin baru saja datang, semuanya
berjalan begitu saja.
“Hey,, makan-makan kok ga ngajak ngajak” Cyndir
Alvin pada kami.
“Cie yang mau kencan… “ Celetuk Tsalis
menyindir.
“Hahaha… apa’an sih, engga, aku Cuma
nganter Cyndi ke took buku, sekalian deh mampir” Alvin mencoba menjelaskan yang
sebenarnya.
“Iyya kok Dew, gue Cuma minta tolong Alvin
buat nganter gue ke Toko buku” jelas Cyndi padaku.
“Lhoohh.. kok Ijinnya ke Aku??” seruku.
“nhah.. lhokan ceweknya Alvin” seru Cyndi
srentak aku pun menjawab “bukan.. bukan,
masak si Alvin mau jadi pacar aku, engga mungkin lah“,
“selera Alvin tuh kaya kamu, bukan kaya
aku” Jelasku.
“oh ya… wuich ada kesempatan aku buat
jadi pacar kamu dong Al?” canda Cyndi.
“apapun yang dikatakan sahabatku pasti
benar” Omong Alvin sambil menatapku.
“Kau salah Dew.. lau benar benar salah..
ucap Alvin di dalam hati mambantah kata katanya sendiri.
“Kau salah Al.. lau benar benar salah..
ucap Dewi di dalam hati menyambut pendapat Alvin.
“Oh ya kalau gitu kita balik dulu yah..
ayok Lis, Kita cabut, udah sore. Aku Cuma ijin pergi bentaran sama ayar” Ucapku
tergesa gesa.
“Mau gue anterin?” tawar Alvin.
“ga usah ga usah.. Cyndi saja.. kan kamu
ke sini sama Cyndi, aku udah sama Tsalis kok.. ntar dia rewel lagi pulang
sendiri” ucapku menolak tawaran Alvin dengan berbagai alasan.
“eh.. tapi kalau lho mau nganterin Dewi
pulang juga ga papa kok, gue masih betah disini, mau makan juga kok.” Saut
Tsalis tanpa ada yang menanyakan.
“Tsalis..!!! apaan sih,” kesalku sembari
menacubit Tsalis.
“udah.. lo sama Alvin yah… biar gue
temenin Cyndi makan di sini” ujar tsalis.
“Kasian Cyndi dong Tsalis, ntar dia
pulang sama siapa coba, lagian kan kita pergi bareng tadi” Ujarku.
“Cyndi.. lo ga papa kan Alvin nganterin
Dewi?” Tanya Tsalis
“Iyya kok gue ga papa” Jawab Cyndi sambil
manyun
“Udah sono” Ngeyel Tsalis
“Gimana Dew? Tanya Alvin
“Ya udah deh kita balik dulu yah.. “
seruku pada Tsalis dan Cyndi
“Iyya.. yang lama ya!” ledek Tsalis
sambil melambaikan tangan
Hari ini Alvin membawa mobil, tidak
seperti biasanya. Kami pun segera menaiki mobil dan perlahan mulai melaju
menjauhi coffe dan menuju rumahku.
“tumben bawa mobil?” tanyaku basa-basi
“iyya. Soalnya Cyndi ga suka naik
motorku” jawab Alvin
“Cyndi cantik ya Al..?” tanyaku pada
Alvin
“Iyya..ga salah kalau di sekolah ia jadi
rebutan” jawab Alvin
“aku hanya terdiam seribu bahasa dengan
tatapan kosong ke sepion kiri mobil Alvin, tanpa sadar pikiranku kemana-mana,
dan akupun terbalut alam lamunan yang dalam.
“Dew.. Dewi…” panggil Alvin
“I..Iyya Al.. Kenapa? Jawabku gugup
“Lo kenapa? Kok diam? Ada masalah?” Tanya
Alvin
“Enggak kok, ga ada apa apa” Jawabku
Pelan tanpa nada.
“Dew.. Pernah ga lo ngerasain jatuh
cinta?” Tanya Alvin mendadak
“A Apa Al?” Jawabku kaget
Kemudian Alvin mengulangi pertanyaanya
dengan nada lebih tinggi namun tidak mengurangi estetikanya yang wibawa saat
berbicara
“kenapa tanya seperti itu?” Tanyaku pelan
“mungkin sekarang aku sedang jatuh cinta”
Gumam Alvin seraya memutar setir
Hatiku bertanya Tanya mendengar perkataan
itu, siapa yang dia maksud, siapa yang ia cintai, sengan mengerahkan segala
emosiku, aku memberikan diri untuk bertanya pada Alvin.
“Sama siapa? Tanyaku singkat
“Seorang gadis yang Lugu, periang dan
santun” Jawab Alvin
“Gadis itu sangat baik padaku, pinter,
cantik dan berkepribadian baik menurutku” Kata Alvin melanjutkan Penjelasanya.
Pikiranku mulai berselancar kembali,
menfokuskan pada bentu sosok yang ada pada cerita Alvin, hatiku berkata “apakah
aku?” ah.. tapi ga mungkin, ga mungkin Alvin suka padaku. Tanpa kusadari
bibirku mengeluarkan kata yang bernada kesal “Siapa Sih….!”
Seketika Alvin pun menjawab “Cuma gue dan
orang itu yang tau, karena satu-satuya bukti jika dia cinta gue, maa dia juga
akan merasakan apa yang gue rasakan”.
“Lo tau ga si dew.. orang yang Gue maksud
itu elo dew.. elo..semua akan bener bener terjadi karena gue bener-bener suka
sama elo dew” kata Alvin dalam hati
Tanpa terasa sampailah kami di depan
rumahku.
“mapir dulu al” ajaku menawari Alvin
sebagai rasa terimakasih
“Ga usah lah, gue harus jemput Cyndi, ga
enak kan.. masa perginya sama gue, pulangnya sendiri? Entar apa kata orang
tuanya?” Jawab Alvin
“Oh iyya, oke deh” jawabku sambil
melempat senyum kekecewaan.
“Gue langsung pamit yah” ujar Alvin
“iyyah.. hati hati” jawabku
Handphone ku bergetar, kulihat di
screenshoot ada pesan yang tertera nama Tsalis sebagai sendernya.
“Cie.. yang baru berduaan???? Ledeknya
melalui pesan singkatnya
Aku hanya senyum dan mengabaikan pesan
tersebut, tapi mulutku menyangkal dan berkata “Apaan si ni anak..”
Kemudian aku langkahkan kakiku ke depan
pintu, setelah ku buka kunci, rumah terasa sepi tanpa ada suara sedikitpun, aku
panggil ayahpun tiada suara yang menyambutku. Sambil melihat jam tangan
pemberian ayah saat ulang tahunku yang ke 16 tahun lalu aku bergumam, “jam
segini ayah kok belum pulang?”
Kemudian aku ambil telepon genggamku, ku
ketik nomor yang tertuju pada telepon genggam ayah.
“Assalamualikum…” terdengar suara lelaki
paruh baya yang setiap pagi kusapa
“Waalaikum salam ayah, ayah kok belum
pulang? Jawabku yang ku lanjutkan dengan bertanya.
“Iyya.. ayah pulang telat lagi hari ini,
ada mendadak ada rapat di kantor” jawab ayah
“oh gitu ya yah, yaudah ayah jaga diri
baik baik, udah makan kan yah?” ujarku
“udah, kamu juga, jangan lupa makan…! Ya
udah segini dulu, ayah mau rapat, assalamualaikum” salam ayah sebagai akhir
perbincangan
“waalikum salam ayah..”jawabku yang
kemudian tedengar suara tuuttt thuuttt thhuuuttt.
22 Desember yah?”
Lirihku dalam hati. “Tuhan.. Jika setiap anak terlahir terlahir dari rahim ibu,
apakah aku juga? Tuhan, jika surge itu di telapak kaki ibu, bagaimana dengan
surgaku Tuhan? Kenapa aku berbeda, kenapa Tuhan menciptakanku berbeda?”
Tangisku di Kamar.
Keesokan
harinya, di dalam kelas terlihat Alvin sedang mengajari Cyndi cara memainkan
PSP kesayanganya. “Eh.. pak didik, pak didik” semua siswa pun menempati
bangkunya masing-masing, pak didik pun memasuki kelas kami. “Selamat pagi
anak-anaka” sapa pak didik, “Selamat pagi pak..”Sambut kami membalas sapaan pak
didik. “Buka buku paket kalian halaman 49, kita akan mempelajari tentang
reproduksi pada manusia..” semua anak bergegas mengambil buku yang ada di dalam
tas mereka dan membuka buku berjudul Biologi tersebut.
“Jadi.. dalam
reproduksi manusia disebut fertilisasi internal, karena pembuahan oleh sperma
dan ovum terjadi di dalam rahim melalui hubungan intim”. Jeas pak didik,
Serentak dengan
penjelasan tersebut sebagian anak-anak tertawa, di sela-sela suara gemuruh
anak-anak tertawa, tumbuh sebatang tangan yang dijulurkan salah satu siswa,
“Iyya yud.. ada
apa?” sambut pak didik menanggapi yudi yang sengaja mengangkat tangan kananya
guna untuk bertanya.
“pak.. bukankah
di jaman yang modern ini, ada yang disebut dengan bayi tabung dan bayi cangkok?
Berarti reproduksi tersebut sudah tidak menggunakan sperma untuk membuahi
ovum?” Tanya Yudi kritis.
Seketika semua
murid bertepuk tangan riuh, membanggakan pertanyaan yang keluar dari siswa yang
terkenal cerdas dan kritis tersebut.
“Pertanyaan
bagus Yud..” sambut pak didik seraya menghentikan tepuk tangan anak-anak.
Kemudian pak
didik melanjutkan penjelasan yang dalam hal ini berkaitan dengan pertanyaan
yudi tadi.
“jadi seperti
ini anak-anaku, bayi tabung adalah sebuah proses reproduksi yang di lakukan
dalam laboraturium dikarenakan ada masalah dengan rahim, sedangkan bayi
cangkok, seperti kita mencangkok sebuah pohon, artinya seperti ini, sebuah
telur sudah dibuahi, namun dilakukan pengembangan janin ataupun yang masih
berupa gumpalan darah tersebut sudah dipindakhkan kedalam rahim orang lain
melalui proses medis. Nhah proses ini nyaris sama dengan anak angkat, dan Banyi
cangkok, si ibu masih bisa merasakan proses kelahiran.
Namun hal itu
berbeda jauh dengan anak angkat yang ada di Indonesia, masyarakat lebih suka
mengangkat anak-anak ataupun bayi yang disebut dengan adopsi. Begitulah
kiranya…”Jelas pak didik.
“Cara mengetahui
perbedaan antara ketiganya bagaimana pak?” Tanya iffa.
Sambil tersenyum
simpul pak didik menjawab, dari cirri biologis mungkin ada beberapa perbedaan
yang menonjol, namun dari segi karakteristik dan tingkah polah anak itu tidak
ada bedanya sama sekali, hanya pengaruh lingkungannya saja bagaimana dan
bagaimana pula masyarakat itu menilainya” Jawab pak didik.
Cuma biasanya
bagi orang tua angkat akan membutuhkan wakatu bertahun tahun untuk menganggap
anak tersebut seperti anak kandung sendiri, bbiasanya terjadi pada salah satu
pihak antara ayah dan ibu. Hal itu membutuhkan waktu sampai minimal 17 tahun,
seperti tiu. Lanjut pak didik.
“Theeetttt……………..”
Bel sekolah
berbunyi, menandakan waktu istirahat dimulai. “oke anak-anak, karena jam sudah
selesai maka selamat istirahat”. Pak didik puk meninggalkan kelas kami.
“dew.. mau ikut
ke kantin?” tawa tsalis, aku hanya menggelengkan kepala.
“Lo enggak papa?
Kok keliatanya pucet?” Tanya tsalis sambil memegang kepalaku.
“ga papa, kalau
mau ke kantin ga apa kok, aku hanya ingin sendirian” kataku.
“Beneran ga mau
gue temenin??” kata Tsalis menegaskan.
Aku menganggukan
kepalaku pelan.
“kalau gitu gue
ke kantin dulu yah..”
Tsalis perlahan
mundur dan berbalik arah berjalan menuju ke kantin, seketika akupun meneteskan
air mata,, aku merenung.. terbeesik dalam hatiku ribuan pertanyaan,, “kenapa
aku? Apakah aku ….? Benarkah aku..? aku pun semakin bertanya-tanya siapa diriku
sebenarnya, air mataku tak terbendung lagi, dan membanjiri kedua belah pipiku.
Tanpa aku tahu, Alvin melihatku dari jendela. Alvin mendekatiku dan hanya diam
serta menatapku meneteskan air mata. Kemudian Alvin mengeluarkan sapu tanganya
serta menawarkanya padaku. Tiba tiba …
“Vin…” terdengan
suara Cyndi menyebut nama Alvin dari pintu.
“Hay….” Sahut
Alvin dengan menoleh, namun tanganya masih dalam menyodorkan sapu tangan
kepadaku.
“Ngapain disitu?
Ngak ke kantin? Biasanya sudah nongkrong di sana?” Tanya Cyndi bertubi-tubi
pada Alvin.
“aku mau ke
sana” jawab Alvin.
“bareng yuk….”
Ajak Cyndi.
Alvinpun pergi
meninggalkanku bersama dengan sapu tangan yang saat ini masih ku simpan rapi
bersama dengan kenangan waktu itu.
Sepanjang waktu
istirahat aku hanya merenung di dalam kelas dan mencoba membereskan semua agar
tidak terlihat terjadi apa-apa.
Kebetulah hari
ini Bapak dan Ibu Guru ada Rapat, seusai istirahat kami dipulangkan. Semua
siswa meninggalkan kelasnya masing-masing. Terkecuali aku. Kelas yang sunyi..
pancaran sinar matahari melalui jendela itulah yang menemani saat itu. Beberapa
menit kemudian..
“dew.. kamu nga
papa kan?” suara itu muncul tiba tiba dari belakangku. Sepertinya suara itu
tidak asing lagi bagiku, bahkan suara itu yang sering aku harapkan hadir dalam
mimpiku dan kesedihanku, suara yang menjadi sela dalam istirahat fiqirku.
“emm???? Jawabku
sambil menoleh..”iyya ga papa” sambungku.
“Kelihatanya
kamu tidak begitu sehat?” Tanya Alvin.
“sehat kok
vin..” jawabku sambil melemparkan senyum.
“tadi aku sempat
melihatmu duduk sendiri di kelas, apa kamu benar-benar ga papa? Tanya Alvin,
aku hanya diam mendengar pertanyaan itu, aku enggan menjawabnya. Terasa berat
ku unggkapkan apa yang kurasakana saat itu.
“Kepana
Dew..?” Tanya Alvin kembali
“tidak apa apa
vin…” jawabku menirukan gaya Alvin bertanya sambil kembali mencoba senyum untuk
menutupi kesedihanku.
“Apa kau
menangis?” Tanya Alvin.
Aku hanya
menggelengkan kepala sambil menunduk.
“Aku mengenalmu
dew, kamu bisa membohongi mereka, tapi tidak untuk ku” Alvin mencoba
meyakinkan.
“Kriiiinnggg……”
Telephone genggamku berbunyi.
“Halo ayah…”
sapaku stelah tombol angkat ku pencet.
“Oh iyya ayah,
Dewi segera pulang” Kataku sebelum beberapa detik kemudian aku menutup
panggilan ayah.
“Kenapa?” Tanya
Alvin.
“ayah menyuruhku
segera pulang..” jawabku.
“bagaimana kalau
ku antar?” tawar Alvin, aku hanya menganggukan kepala tanpa sepatah kata.
Tepat di depan
gerbang sekolah,
“Vin….” Teriak
Cyndi sambil melambaikan tangan dari dalam gerbang yang semakin lama semakin
mendekat.
“ma’af Cyn, Gue
ga bisa nganterin Loe hari ini” kata Alvin dan langsung berjalan.
Dalam perjalanan
aku memeluk Alvin erat, Alvin meraih tangaku.
“aku tau kamu
ada masalah Dew..” kata Alvin dalam hati.
“makasih Vin
udah nganterin aku, ma’af aku merepotkanmu” kata aku sambil turun dari motor
Alvin,
“iyya dew.. ga
papa, aku seneng kok bisa nganterin kamu” jawab Alvin sambil membenahi posisi tasnya.
“aku ke dalem
dulu yah vin..” kata aku
“iya deh kalau
begitu aku juga langsung pulang, terimakasih dew.. istirahat yang cukup yah
dew..” kata Alvin.
Aku membuka
pintu rumahku yang sudah tidak dalam keadaan terkunci, dan ayah menyambutku..
“eh.. sudah
pulang anak ayah yang cantik..” sapa ayah.
“Iyya yah…’ jawabku lemas.
“kok pucet
gitu?” Tanya ayah.
“cumin masuk
angin yah..” jawabku singkat.
“beneran??”
Tanya ayah menegaskan.
“iyya yah..”
jawabku.
“yaudah sekarang
dewi siap siap yah, ayah ingin ngajak dewi ke Rumah Nenek.. ada acara makan
malam keluarga” kata ayah.
“Beneran yah??”
tanyaku agak riang.
“Iyya…” jawab
ayah.
“asyik…
terimakasih ayah… muach..” jawabku sambil mencium pipi ayah.
Baru pertama
kalinya ayah mengajaku ke tempat Nenek,, apa lagi untuk jamuan makan malam
seperti ini sama keluarga besar. Setelah aku bersiap-siap, ayahpun mengeluarkan
mobilnya dari bagasi.
“yah.. kenapa si
tidak dari dulu kita makan malam keluarga seperti ini? Tanyaku pelan.
Ayah hanya
terdiam,
“pasti nenek
seneng ya yah ketemu dewi..” Tanya ku.
Sembari
tersenyum menanggapi pertanyaanku, ayah berkata “nanti Diana dewi bareng ayah
yah,.. jangan misah”.
“Kenapa yah?”
tanyaku penasaran.
“takutnya nanti
dewi ngilang nanti” jawab ayah sambil menahan senyum hambar.
“Dewi kan sudah
berumur 17 tahun yah, masak iya ngilang..” argumenku mempertahankan harga
diriku di depan ayah.
“masih lusa
kan?” kata ayah.
“iyya … iyyaaa”
jawabku manyun.
Jarak rumah kami
ke tempat nenek lumayan jauh, satu jam kami baru sampai di rumah yang kami
tuju.
“kok rame banget
ya yah?” tanyaku.
“iyya makanya”
jawab ayar.
“semua itu
keluarga kita yah?” Tanyaku kembali.
“bukan, sebagian
temen serta kerabat dari tante dan Nenek” jawab ayah.
“Oh.. gitu”
angguku tanda mengerti.
“nhah itu nenek,
nati yang sopan ya..” kata ayah sambil mengajaku mendekati seorang yang sudaah
lanjut usia itu.
Dari kecil aku
memang tidak pernah bertemu eyangku, sampai sampai aku tidak mengenalinya
begitu jelas, Cuma pernah lihat dalam foto sewaktu ayah masih kecil. Mungkin
sudah pernah ketemu ketika masih kecil dulu.
“eyang…” sapaku
sambil mencium tangan eyang yang sudah keriput.
“si dewik? Sudah
besar sekarang, Ya Tuhan… dari kecil eyang baru bisa ketemu dewik lagi
sekarang. Cantik lagi..kenapa baru di ajak sekarang gas? Kata eyang menyalahkan
ayah.
“hehe.. kan
bagas sibuk ma..” Jawab ayah membela diri.
“sesibuk apapun
mosok iyya ga mau ngajak cucu eyang kesini…” jawab eyang.
“ini juga udah
tak bawa..” kata ayah sambil mengelus kepalaku.
“cantik ya Dewi…
seperti bundanya…” kata eyang..
“Bunda Eyang???
Tanyaku kaget.
“iyya.. yuk tak
ajak kenalan sama tante-tantemu…” ajak eyang.
“ayah..???
isyaratku meminta ijin ayah.
Ayah
menganggukan kepalanya, kemudian nenek meraih pundaku dan mengajaku bertemu
dengan tante dista.
“Dis.. ini loh Dewi ponakanmu” kata eyang
dengan logat jawanya.
“Hah.. ini??” Kaget seorang wanita paruh
baya yang biasa disapa Dista itu.
“ya Tuhan.. sudah besar sekarang, kelas
berapa? Cantik ya..” lanjut wanita yang saat itu memakai kebaya warna kuning
keemasan yang kemudian mencium pipi kanan kiriku.
“Mana ayahmu nduk??” lanjut tante
bertanya sebelum aku menjawab pertanyaanku sebelumnya.
“dia sudah kelas tiga sekarang di…
rangking satu dikelasnya, tapi bandelnya minta ampun” saut ayah sambil
mendekati kami.
“oh ini to anak yang dulu ……” kata salah
seorang teman dari tante dista.
Seketika pembicaraan itu berhenti karena
dicubit oleh tante dista…
“Kenapa Tante??” tanyaku penasaran pada
teman teman tante dista.
“Dewi….” Panggil ayah memotong
pembicaraan kami.
“iyya ayah..” jawabku.
“ayok kita makan…” ajak ayah sambil meraih tanganku.
“eyang…. Dewi seneng deh bisa makan
bareng sama eyang” ungkapku pada eyang.
“iyya.. eyang juga seneng, gas… setelah
ini mama minta bantuan sama kamu, ada yang rusak di belakang…” pinta eyang pada
ayah.
Aku terlalu jenuh menunggu sendiri di
tempat maka, akupun berjalan-jalan disekitar ruangan, melihat foto dan lukisan
yang terpajang di ruangan itu. Tanpa ku sengaja, aku mendengar percakapan
antara tante dista dan temanya di ruang belakang.
“jadi itu toh anak angkat mas bagas?
Terus gimana ceritanya dis? ”celotehan suara dari ruang belakang yang bisa
diperkirakan teman dari tante dista.
“ceritanya dulu mas bagas punya istri dan
anak dalam hidupnya, tapi semenjak istri dari kakanya mas Ari, maka Dewi, anak
mas Ari dititipkan pada Mas bagas sebagai adiknya.” Jelas tante dista.
“terus-terus?” Tanya teman tante
penasaran.
“Nhah karena mas Bagas punya banyak
hutang sama mas Ari, maka Mas bagas akan menjaga amanat itu apapun yang
terjadi. Namun..mas bagas lebih memilih si Dewi ketika istri dan anaknya tidak
mau dengan keadaan Anak pembawa kehancuran tersebut, kemudian anak dan istrinya
pergi meninggalkan Mas Ari” Jelas tante dista.
Aku ingin teriak menumoahkan kesedihanku,
tidak bisa kupercaya keadaan ini, kenapa tuhan menjadikanku seperti ini, kenapa
tuhan tidak adil padaku, dalam hatiku hanya ayah yang bisa kupanggil. Tanpa ku
ketahui dari mana asalnya, ayah sudah berdiri di belakangku.
“ayah…?” kagetku.
Tanpa menyambung kata lagi, aku berlari
menuju mobil ayah dan ayah mengejarku.
“Dewi?? Dewi Kenapa?” Tanya ayah gelisah.
“Dewi ingi pulang yah..” jawabku menunduk
menyembunyikan tangisku.
Loo…? Acaranya belum selesai” Jawab ayah.
“Dewi mau pulang yah…” desakku dengan
nada lebih tinggi.
Ayahpun menatapku, seakan membaca apa
yang terjadi padaku. Kamipun pulang. Dalam perjalanan pulang aku hanya terdiam
dengan tatapan kosong. Masih jelas terngiang di telingaku bagaimana kata-kata
tante dista. Seakan aku bisa membayangkan bagaimana raut wajah mereka saat
berbicara. Sesampaiya di rumahpun aku langsung masuk kamar dan mengurung diri.
Air mataku tak bisaku bending lagi, seakan tak ada habisnya mengalir membasahi
pipiku.
“Kenapa Tuhan??? Kenapa? Apa maksud dari
tante dista itu? Kenapa Tuhan Seperti ini?
Malam itu aku lalui dengan penuh air mata
bercucuran. Bukan maen perasaanku hari ini.
“Dewi…” panggil ayah dari luar sambil
mengetuk pintu..
“Dewi baik baik saja?” sambung ayah,
aku belum bisa memperdulikan apa yang
terjadi disekitarku sekarang. Hatiku kacau, aku menangis terus terusan tak ada
hentinya. Sampai ku dengar ayah melangkahkan kakinya menjauh dari kamarku.
Keesokan
harinya “Yah.. Dewi Berangkat dulu
yah..” Kataku sambil sedikit mengencangkat tali sepatu sambil lari. “Sarapan
Dulu yuk..”Kata Ayah. “Aku Buru-buru yah..” jawabku, “Kalau begitu ayah antar”.
Ayahpun mengantarkanku pergi berangkat sekolah.
Sesampainya di sekolah “hati-hati ya
yah..” kataku setelah mencium tangan ayah. “Iyya..” Jawab ayah.
“Ayah…” ucapku memanggil ayah. “iyya dewi?”
sahut ayah. “maafkan dewi semalem udah mbetak ayah. “iyya tidak apa-apa” jawab
ayah yang kemudian mencium keningku.
Sesampainya aku I dalam kelas..
“Byuurrrrr!!!” semua anak menatapku “selamat ulang tahun!!” serentak berteriak
kepadaku, senyum sumpringah tak bisa kututupi lagi “selamat ulang tahun ya
dew..” semua anak mengucapkan nya padaku, kecuali Alvin yang langsung mendekat
dan memberikan sebuah kado kecil padaku. “dew.. ini buat kamu” ucap Alvin. “
Makasih ya Al… “ kataku sambil menerima
kado itu. “cie.. yang dapet kado…” saling sahut anak-anak mengusiliku dengan
Alvin. “hih..!! apa-apaan sih..” Maluku. “terus kapan nih makan-makanya?” usil
Tsalis kepada kami (Aku dan Alvin). “ah kamu itu kalau urusan makan aja selalu
inget. Hehehe..besok deh..” kataku. “wah.. di hari ulang tahumu tepat dengan
hari ibu yah..” kata Tsalis. Aku hay terdiam mendengar kata itu muncul. Seperti
biasanya pelajaranpun segera dimulai.
Sepulang sekolah.. Alvin tiba-tiba
menariku kedalam kerumunan anak-anak di halam sekolah. “dengarkankan semuanya…!
Teriak Alvin. Semua teman-temanpun langsung
menatap kea rah kami. Tidak ketinggalan pula Cyndi. “Dewi… di usiamu
yang ke 17 tahun, aku ingin jujur, sebetulnya dari awal aku mengenalmu bahkan
dari awal aku menatapmu aku telah jatuh cinta kepadamu dew.. sekarang, maukah
kamu jadi pacar aku? “Alvin menembakku
di depan anak-anak. “Terima… Terima… Terima… Sorak-sorak teman-temanku semua
padaku. “Bagaimana Dew?? Tanya Alvin.. setelah beberapa menit aku terdiam “Iya
Al.. aku mau” kataku singkat. “Cie..cie..teriak anak-anak, Alvinpun memelukku,
(Terimakasih Tuhan, Kau telah menepati janjimu untuk memberikan kado terindah
dalam hari ulang tahunku..) sesampainya di rumah, terlihat ayah sedang
memandang lukisan kesayanganya.
“Ayah.. “ Panggilku, Dewi… Happy Birthday
sayang.. sekarang dewi sudah tambah
besar ya.. Ucap ayah sambil menunjukan tiket pesawat tujuan Thailand. “Ayah…”
lirihku.. “Kenapa? Dewi ga suka? Mbukankah dewi Pengen banget ke Bangkok?”
Sahut Ayah. Dewi suka yah, sukaa banget malahan, terimakasih yah..” Ucapku
sambil memeluk ayah. “Iyya.. terus kenapa sedih?” Tanya ayah. “di hari ini, di
tanggal ini bukan Cuma Dewi yang merasa bahagia, tapi semua Ibu di seluruh
dunia juga merasakan Bahagia” Jelasku. Ayah hany terdiam mendengar ucapanku.
“Semua teman-temank memperingatinya dengan Ibu mereka masing-masing” Lanjutku.
Aku manatap wajah ayah. “Ini kue buat ayah..meskipun dewi tidak punya ibu, tapi
Dewi punya Ayah, meskipun Dewi tidak bisa belajar memasaka dengan Ibu, ataupun
berbelanja dengan ibu seperti yang lainya. Tapi dewi punya ayah. Dewi tidak
butuh tiket ini yah… yag dewi butuhkan hanya Ayah..dan ayah.”Aku menangis.
“Terimakasih ayah, kau telah mau merawatku di dalam masa kecilku yang sudah
cukup kelam, kau ubah kesedihanku
menjadi senyum kebahagiaan” ayah menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Kalaupun
Dewi punya pilihan memiliki seribu Ibu dan memiliki ayah sepertimu ya,, dewi
juga nda rela menukar Ayah dengan Seribu Itu.. dewi memilih untuk memiliki
ayah, dewi tidak ambil pusing dengan semua omongan di luar sana. Cuma satu yang
dewi tau bahwa ayah benar benar menyayangi Dewi.” Ayah memelukku erat setelah
mendengarkan semua aungkapanku.
“Ayah.. di usiaku ke 17 ini, cukup ayah
ayah sudah cukup untuk menyimpan dan memendam semua cerita tetang Dewi Yah..
dewi sudah besar. Dewi tau segala hal Tentang Dewi.. termasuk masa kecil dewi..
maaf yah, dewi sudah merusak hidup ayah,
merusak semua dari aya. Dewi benar-benar minta maaf” air mataku tak
terbendung di depan ayah aku menangis dan meluapkan air mata kebahagiaan.
Dewi.. dengarkan ayah… jangan pernah menghiraukan apa yang mereka omongkan,
dewi tetap menjadi anak ayah, sampai kapanpun dewi adalah malaikat kecil ayah, maafka ayah yang selalu menutupi
semua nya, Cuma satu yang ayah mau dan ayah ingin menjaga dewi dari semua orang
yang tiak suka terhadap dewi, itu alasan mengapa ayah tidak mau memberi ruang
untuk berkumpul dengan mereka” terang ayah sambil mencucurkan air mata. Ayah…
“Tangisku, “Kenapa Yah… Kenapa Dewi harus menjadi seperti ini.. kenapa harus
ada anak angkat seperti dewi ini yah.. Kenapa? Histerisku, “Tidak Dewi.. “ Ayah
memeluku, “Jangan Panggil Dewi anak angkat yah.. Jangan!” Lirihku di
telinga ayah. “Tidak Dewi… Dewi
Bukan anaka angkat ayah…” Jawab ayah
menenangkanku.
Terimakasih Tuhan, di usiaku sekarang kau
ciptakan orang-orang yang benar-benar sayang denganku, mungkin aku tidak
memiliki bunda yang melahirkanku. Namun aku punya ayah yang merawatku, Ilove
You My Ded, aki sayang ayah…
Entah dewi harus memanggilmu denga
sebutan apa? Dan aku? Untuk yang merasakanya saja.